-->
Sunday, June 30, 2013

Proposal Penelitian Penggunaan kata sapaan

IKLAN


PROPOSAL PENELITIAN

PENGGUNAAN KATA SAPAAN DI LINGKUNGAN
MAHASISWA JURUSAN BAHASA INDONESIA STKIP YPM BANGKO
TAHUN AJARAN 2012-2013


             Bambang Hermanto
             NPM : 10020211026


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
YAYASAN PENDIDIKAN MERANGIN
TAHUN AKADEMIK
2013



BAB I
PENDAHULUAN

   A.    Latar Belakang Masalah
Bahasa adalah penggunaan kode yang nerupakan gabungan fonem sehingga membentuk kata dengan aturan sintaks untuk membentuk kalimat yang memiliki arti. Bahasa memiliki fungsi yaitu untuk berkomunikasi antar anggota masyarakat. Sebagai alat komunikasi anatar masyarakat, bahasa merupakan saluran perumusan maksud yang melahirkan perasaan dan memungkinkan adanya kerja sama antar individu. Selain itu, bahasa juga berfungsi sebagai medium untuk melakukan tindakan dan cerminan budaya penuturnya.
Wardaugh (dalam Oktavianus, 2006:3), menyatakan bahwa “Bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer yang digunakan untuk komunikasi manusia”. Definisi ini mengimplikasikan bahwa bahasa manusia memiliki sistem dan keteraturan-keteratuan yang dapat dikaji secara ilmiah. Bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia direalisasikan dengan lambang-lambang, sehingga bunyi-bunyi itu dapat diamati. Lambang-lambang tersebut dalam bahasa tulis dapat berupa kata, frasa, klausa, dan kalimat, dan digunakan dalam komunikasi untuk menyampaikan suatu pesan atau maksud.
1
Kridalaksana (dalam Oktavianus, 2006:4), menambahkan bahwa “Bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri”. Penggunaan bahasa dengan baik menekankan pada aspek komunikatif bahasa. Hal itu berarti bahwa harus memperhatikan sasaran bahasa yang akan digunakan.
Hal yang harus diperhatikan adalah kepada siapa akan menyampaikan bahasa tersebut. Oleh sebab itu, unsur-unsur, pendidikan, agama, status sosial, dan lingkungan sosial tidak boleh diabaikan.
Masyarakat Indonesia pada umumnya sering menggunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa daerah merupakan bahasa ibu atau bahasa pertama yang diperoleh anak dari lingkungannya. Mempelajari bahasa pertama merupakan salah satu perkembangan menyeluruh anak menjadi anggota penuh suatu masyarakat. Bahasa memudahkan anak mengekspresikan gagasan, kemauannya dengan cara yang benar-benar dapat diterima secara sosial.
Bahasa merupakan media yang dapat digunakan untuk memperoleh nilai-nilai budaya, moral, agama, dan nilai-nilai lain dalam masyarakat. Sedangkan bahasa indonesai merupakan bahasa kedua yang diperoleh dari lingkungan formal atau jenjang pendidikan dan hanya digunakan ketika situasi resmi atau ketika berbicara dengan orang berlainan daerah. Sebagai bahasa Nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai, (1) lambang-lambang nasional,(2) lambang identitas Nasional,(3) alat pemersatu berbagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakang sosial budaya dan bahasanya, dan (4) alat perhubungan antar budaya dan antar daerah.
Bangsa Indonesia memiliki khazanah budaya yang beragam. Dari suku, adat istiadat, bahasa, nyanyian, tarian, serta panggilan atau kata sapaan untuk seseorang. Kata sapaan yang memiliki ciri khas tersendiri. Kata sapaan merupakan kata yang dipakai untuk menegur, menyapa, mengajak bercakap-cakap, dan sebagainya. Kata sapaan berguna sebagai ajakan bercakap, teguran, ucapan, serta ling kata atau frasa untuk saling merujuk dalam pembicaraan dan yang berbeda menurut sifat hubungan di antara pembicara itu, seperti: Anda, Ibu, Saudara dan sebagainya.
Kekhasan kata sapaan tersebut biasa terlihat dari masing-masing daerah, misalnya di Bangko, panggilan untuk senior atau kakak tingkat Ayuk atau Abang, dan di Jawa dengan sebutan mas atau mbak, di Pesisir dengan panggilan Uni untuk perempuan dan Uda atau Abang untuk laki-laki, dan di Medan dengan panggilan Tulang.
Penggunaan kata sapaan yang beragam di setiap daerah, serta belum adanya penelitiian yang dilakukan di daerah tersebut mengenai kata sapaan, sehingga penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian ini. Oleh karena itu, pada penelitian ini penulis melakukan penelitian terhadap penggunaan kata sapaan di lingkungan mahasiswa juurusan Bahasa Indinesia STKIP YPM Bangko.
   B.     Fokus Penelitian
Masalah penelitian ini difokuskan pada penggunaan kata sapaan yang digunakan di lingkungan mahasiswa jurusan Bahasa Indinesia STKIP YPM Bangko.
   C.    Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan focus penelitian, maka pertanyaan penelitian pada kajian ini adalah: “Bagaimana kata sapaan yang digunakan oleh mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia STKIP YPM Bangko?”
   D.    Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan kata sapaan kekerabatan yang digunakan  mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia STKIP YPM Bangko.
E.     Manfaat Penelitian
1.      Secara Teoritis
Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk pengembangan bahasa kekerabatan di lingkungan mahasiswa, bagi pengembangan bahasa, khususnya kajian Sosiolingustik. Serta berguna untuk sumber informasi dalam rangka memperluas khasanah keilmuan yang berhubungan dengan dunia kebahasaan.
2.      Secara Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan berguna bagai, antara lain:
a)  Bagi guru, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan penyusunan buku-buku teks muatan local.
b)    Bagi peneliti lain, agar biasa menjadi pedoman atau panduan dalam penelitian serupa lebih lanjut.
c)   Bagi Mahasiswa STKIP YPM Bangko, agar bisa menjadi pedoman/panduan dalam penelitian yang serupa. 



                                                                  BAB II

                                                      KAJIAN TEORI

    A. Bahasa

      1. Pengertian Bahasa

             Bahasa adalah penggunaan kode yang merupakan gabungan fonem sehingga membentuk kata dengan aturan sintaks untuk membentuk kalimat yang memiliki arti. Menurut Keraf (1984:16), “Bahasa adalah alat komunikasi antar anggota masyarakat, merupakan lambang bunyi suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia”.

         Kamus Besar Bahasa Indonesia secara terminologi mengartikan “Bahasa sebagai system lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri”. Sejalan dengan itu, Chaer (1997:3) menyatakan “Bahasa adalah sistem lambang yang berupa bunyi, bersifat arbitrer, digunakan oleh suatu masyarakat tutur untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifiksi diri”.
         Kridalaksana (dalam Oktavianus, 2006:4), mengemukakan bahwa “Bahasamerupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bersama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri”. Selanjutnya, Wibowo (dalam Hidayatullah,

         2009), mengemukakan bahwa “Bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai

         sebagai alat komunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran”.

         Dengan demikian yang dimakksud dengan bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, memiliki makna dan berartikulasi yang digunakan oleh anggota masyarakat untuk berkomunikasi, menghasilkan perasaan dan pikiran, serta untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri.

     2.  Fungsi Bahasa

         Fungsi utama adalah sebagai alat untuk bekerja sama atau berkomunukasi di dalam kehidupan manusia masyarakat (Chaer, 1997:5). Pengertian tersebut menekankan bahwa fungsi utama bahasa adalah untuk berkomunikasi antar sesama masyarakat.

         Keraf (dalam Novelis, 2009), menyatakan bahwa ada empat fungsi bahasa, yaitu:

         a. Alamat untuk menyatakan ekspresi diri

            Bahasa menyatakan segala sesuatu yang tersirat di dalam dada dan pikiran kita, sekurang-kurangnya untuk menyampaikan keinginan kita.

         b. Alat komunikasi

            Bahasa merupakan saluran perumusan maksud yang melahirkan perasaan, gagasan, dan memungkinkan adanya kerja sama dan interaksi antar individu.

         c. Alat mengadakan interaksi

            Bahsa merupakan salah satu unsur kebudayaan yang memungkinkan manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka, mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman tersebut, sertabelajar berkenalan dengan orang-orang lain.
 
         d. Alat mengadakan control sosial

            Bahasa merupakan alat yang dipergunakan dalam usaha mempengaruhi tingkah laku dan tindak tanduk orang lain. Bahasa juga mempunyai relasi dengan proses sosialisasi suatu masyarakat.

         Sedangkan funsi bahsa menurut menurut Kinneavy (dalam Michel, 1967:51) ada lima yaitu:

     1.  Fungsi ekspresi

         Bahasa digunakan untuk melahirkan ungkapan-ungkapan batin yang ingin disampaikan seseorang penutur kepada orang lain. Pernyataan senang, benci, kagum, marah, jengkel, sedih, dan kecewa dapat diungkapkan dengan bahasa, meskipun tingkah laku gerak-gerik, dan mimic juga berperan juga berperan dalam pengungkapan ekspresi batin itu.

     2.  Funsi informasi

         Bahsa untuk menyampaikan pesan atau amanat kepada orang lain.

     3.  Fungsi eksplorasi

         Bahasa digunakan untuk menjelaskan suatu hal, perkara, dan keadaan.

     4.  Fungsi persuasi

         Bahasa bersifat mempengaruhi atau mengajak orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu secara baik-baik.

     5.  Fungsi entertaimen

         Bahasa digunakan dengan maksud menghibur, menyenangkan, atau memuaskan perasaan batin.

   B. Kata

     1. Pengertian Kata

          Istilah “kata” dalam bahasa melayu dan bahasa Indonesia berasal dari bahasa sansekerta, yaitu “katha”. Dalam bahasa sansekerta katha sebenarnya artinya adalah “konversasi”, “bahasa”, “cerita” atau “dongeng”. Dalam bahasa melayu dan Bahasa Indonesia terjadi penyempitan arti semantic manjadi “kata”.

        Kata adalah suatu unit dari suatu bahasa yang mengandung arti dan terdiri dari satu atau lebih morfem. Umumnya kata terdiri dari satu akar kata atau tanpa atau dengan beberapa afik. Gabungan kata-kata dapat membentuk frasa, klausa, atau kalimat.

        Kamus Besar Bahasa Indonesia (Tim,2001:513) memberikan beberapa definisi mengenai kata:

        a. Unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa.

        b. Ujar,bicara.

        c. Morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagaian satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas yang dapat berdiri sendiri.

           Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kata merupakan suatu unit bahasa terkecil yang memiliki arti, dapat berdiri sendiri dan terdiri dari satu morfem gabungan.

    2.  Jenis Kata

           Berdasarkan bentuknya, kata bias digolongkan menjadi empat: kata dasar kata turunan, kata ulang, dan kata majemuk. Kata dasar adalah kata yang merupakan dasar pembnetukan kata turunan atau kata berimbuhan. Perubahan pada kata turunan disebabkan karena adanya afik atau imbuhan baik di awal (perfik atau awalan), tengah (infik atau sisipan), maupun akhiran (sufik atau akhiran) kata.

        Kata ulang adalah kata dasar atau bentuk dasar yang mengalami perulangan baik seluruh maupun sebagian, sedangkan kata majemuk adalah gabungan beberapa kata dasar yang berbeda membentukk suatu arti baru.

        Dalam kata bahasa baku bahasa Indonesia, kelas kata terbagi menjadi tuju kategori, yaitu:

        a. Nomina (kata benda), nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan, misalnya meja, kelinci, buku.

        b. Verba (kata kerja), kata yang menyatakan suatu tindakan atau pengertian dinamis, misalnya membaca, mencangkul.

           1. Verba transitif (contoh: membunuh),

           2. Verba kerja intransitive (contoh: meninggal),

           3. Pelengkap (contoh: berumah)

           c. Adjektiva (kata sifat); kata yang menjelaskan kata benda, misalnya, cantik,indah.

           d. Adverbia (kata keterangan); kata yang memberikan keterangan pada kata yang bukan kata benda, misalnya sekarang, nanti, besok.

           e. Pronominal (kata ganti); kata pengganti kata benda, misalnya ia, itu.

             1)  Orang pertama (kami),

             2)  Orang kedua (engkau),

             3)  Orang ketiga (mereka),

             4)  Kata ganti kepunyaan  (-nya),

             5)  Kata ganti petunjuk (ini, itu)

          f.  Numeralia (kata bilangan); kata yang menyatakan jumlah benda atau hal atau menunjukkan urutannya dalam suatu deretan, misalnya satu, kedua.

             1)      Angka kardinal (duabelas),

             2)      Angka ordinal (keduabelas)

         g.      Kata tugas adalah jenis kata di luar kata-kata di atas yang berdasarkan peranannya dapat dibagi menjadi lima subkelompok.

                 1)      Preposisi (kata depan) (contoh: dari),

            2)      Konjungsi (kata sambung) – konjungsi berkoordinasi (dan), konjungsi subordinat (karena),

             3)      Artikula (kata sandang), contoh: sang, si – umum dalam bahasa Eropa (misalnya the),

             4)      Interjeksi (kata seru), contoh: wow, wah.

        C.    Komunikasi

     1. Pengertian Komunikasi

           Membahas tentang komunikasi, sama dengan membahas satu dimensi dalam ilmu sosial. Sebab, komunikasi adalah sebagaian dari pola interaksi unsur-unsur dalam system sosial. Pendek kata, komunikasi adalah bagian dimensi sosial yang khusus membahas pola interaksi antar manusia (human communication) dengan menggunakan idea tau gagasan lewat lambang atau bunyi ujaran (dalam Nurudin, 2003:11).

        Sejalan dengan pengertian di atas, Rogers (dalam Nurudin, 2003:26) mengatakan bahwa “komunikasi adalah proses hal mana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih dengan maksud mengubah perilaku”. Definisi ini menekankan bahwa dalam komunikasi ada proses pengoperan (pemrosesan) ide, gagasan, lambang, dan di dalam prose situ melibatkan orang lain.

        Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah proses menyampaikan ide, gagasan, lambang, serta pemikirankepada orang lain untuk merubah perilaku.

   D. Kata Sapaan

    1. Pengertian Kata Sapaan

          Kata sapaan adalah kata yang digunakan untuk menyapa orang yang diajak berbicara. Penulisan kata sapaan diawali dengan penggunaan huruf capital. Menurut Dendy Sugono (2003:77), menyatakan bahwa “kata sapaan adalah kata yangdigunakan untuk menegur sapa orang yang diajak berbicara (dalam Yustanto), mengemukakan bahwa “kata sapaan adalah seperangkat kata atau ekspresi untuk menunjuk pada seseorang yang diajak bicara ketika pembicaraan sedang berlangsung”. Sejalan dengan pengertian di atas, Fasold (dalam Yustanto), mendefinisikan kata sapaan sebagai kata-kata yang digunakan seseorang untuk menunjuk seseorang yang sedang diajak bicara.

       Selanjutnya Eko (dalam Rizal, 2009:8), menyebutkan bahwa “kata sapaan merupakan kata yang digunakan untuk menyapa atau menyebut seseorang yang diajak bicara”.sejalan dengan pengertian tersebut, Kridalaksana (dalam Rizal, 2009:8), mendefinisikan bahwa “kata sapaan adalah morfem, kata atau frase yang digunakan untuk saling merujuk dalam situasi pembicaraan yang berbeda-beda menurut sifat hubungan antara pembicaraan”. Chaer (dalam Rizal, 2009:8), menambahkan bahwa “kata sapaan adalah kata-kata yang digunakan untuk menyapa, menegur, atau menyebut orang kedua yang diajak bicara”.

       Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kata sapaan adalah morfem, kata, atau frase yang digunakan untuk saling merujuk dalam situasi pembicaraan sebagai pengganti nama orang kedua atau orang ketiga.

    2. Jenis Kata Sapaan

       Syafyahya (dalam Rizal, 2009:9), membagi jenis kata sapaan yaitu, a) Kata Sapaan Kekerabatan, b) Kata Sapaan Nonkekerabatan

     a. Kata Sapaan Kekerabatan

        Menurut Muzamil (dalam Rizal, 2009:10), “kata sapaan kekerabatan adalah kata-kata yang dipergunakan untuk menyapa orang yang memiliki hubungan persaudaraan. Sedangkan Lowie (dalam Rizal, 2009:10), menjelaskan bahwa “kekerabatan adalah hubungan sosial yang terjadi antara seseorang dengan saudara-saudaranya atau keluarganya”.

        Berdasarkan pengertian di atas, kata sapaan kekerabatan merupakan kata sapaan yang digunakan untuk menyapa anggota keluarga yang memiliki tali persaudaraan atau ikatan pernikahan.

     b. Kata Sapaan Nonkekerabatan

        Menurut Sulaiman (dalam Rizal, 2011:11-13), kata sapaan nonkekerabatan dapat dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu sebagai berikut:

    1. Kata Sapaan dalam Masyarakat Umum

       Kata sapaan dalam masyarakat merupakan kata-kata yang digunakan untuk menyapa orang-orang yang tidak mempunyai hubungan keluarga. Kata sapaan dalam masyarakat dibedakan menjadi sapaan untuk orang yang lebih tua, orang yang lebih muda, sapaan untuk sebaya, dan untuk orang yang belum dikenal. Sebagai contoh sapaan yang digunakan untuk menyapa orang yang sebaya dengan kakak kandung, sapaannya adalah kakak.

    2. Kata Sapaan dalam Agama

       Muzamil (dalam Rizal, 2009:12), menyatakan bahwa “kata sapaan keagamaan adalah kata yang dipergunakan untuk menyapa orang-orang yang sedang dalam suasana keagamaan, misalnya dimasjid atau dalam pertemuan keagamaan lainnya. Sejalan dengan pengertian di atas, Syafyahya (dalam Rizal, 2009:12), mengatakan bahwa kata sapaan keagamaan adalah kata sapaan yang digunakan untuk menyapa orang yang mendalami dan bekerja di dalam agama”.

    3. Kata Sapaan dalam Jabatan

       Kata sapaan dalam profesi atau jabatan adalah kata sapaan yang mengikat unsur-unsur bahasa, yang menandai perbedaan struktur dan peran partisipasi dalam komunikasi jabatan yang dipangku seseorang.

    4. Kata Sapaan dalam Adat

       Hadikusuma (dalam Rizal, 2009:13), menyatakan “kata adat berasal dari kata arab, yaitu “adah” yangartinya kebiasaan atau sesuatu yang sering diulang”. Kebiasaan yang dimaksud adalah norma-norma yang berwujud aturan, dan tingkah laku yang berlaku dalam masyarakat yang dipakai secara turun temurun. Mukti (dalam Rizal, 2009:13), mengemukakan bahwa adat merupakan pencerminan kepribadian suku bangsa dalam dalam suatu wilayah tertentu, dan merupakan pengalaman jiwa masyarakat yang bersangkutan secara turun temurun.

 




2 komentar

artikelnya bagus trimaksih...
karna laporan ini sangat membantu saya..

gaknada daftarbpustakanya kh
?

jika menyertakan link aktif diaggap sepam