BAB 1
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Pendekatan ekpresif
tumbuh subur pada abad ke-18 dengan munculnya
aliran rokantrisme yang dikembangkan
oleh Jean Rouseau. Pendekatan ekspresif berpandangan bahwa pengarang
adalah faktor yang paling penting dalam
proses penciptaan drama. Dalam hal ini permasalahan yang timbul dalam
pendekatan ekspresif ini adalah cara
pandang manusia dalam dirinya. Berdasarkan pandangan tersebut maka pengetahuan
peran pengarang sebagai pencipta drama mulai dilupakan dalam pengelidikan karya
drama.
Selain
itu pendekatan pragmatis dalam hal ini juga akan dibahas, pendekatan pragmatis
tumbuh dan berkembang dengan semakin diterimanya argumentasi para teoritis
sastra yang mengemukakan metode presepsi sastra. Pendekatan prakmatis
terpandang bahwa unsure penentu dalam pemberian makna sebuah karya sastra drama
adalah pembaca. Tujuan penciptaan dari pengarang pada dasarnya untuk memberikan
sesuatu yang bermanfaat dan kenikmatan bagi pembacanya.
B.
PERMASALAHAN
Dalam
hal ini permasalahan yang muncul dalam materi tersebut adalah:
1) Prinsip
umum pendekatan ekspresif
2) Prisip
umum pendekatan pragmatic
3) Prinsip
penerapan pendekatan ekspresif
4) Prisip
penerapan pendekatan pragmatis
BAB
II
PEMBAHASAN
Pendekatan
ekspresif berpandangan bahwa pengarang adalah factor yang paling penting dalam
proses penciptaan drama.Pengarang penting karena ia pencipta. Sebagai pencipta
berarti ia mendominasi drama dengan pikiran,perasaan dan pandangannya.Pengaranglah
yang menentukan bagaimana ia berkeinginan dengan karyanya. Pengaranglah yang
merencanakan unsure unsure drama,walaupun hasilnya terkadang tidak sesuai
dengan perencanaan semula. Oleh sebab itu penyelidikan drama diperlukan pengaitan
dengan pengarangnya.Walaupun pengaitan ini tidak mutlak diperlukan, namun jika
hendak memahami sebuah karya drama dengan baik unsur pengarang tidak boleh
diabaikan.
2.1. Prinsip Umum Pendekatan
Ekspresif
Beberapa
prinsip umum dalam penganalisisan drama dengan menggunakan pendekatan ekspresif
adalah sebagai berikut:
1. Drama
sebagai sesuatu yang otonom tetap dihargai sebagai sesuatu yang terlepas dari
pengarang yang menciptakannya. Keotonoman drama tidaklah berarti menghapus
eksistensi pengarang sebagai pencipta: sebaliknya mengakui peran pengarang
tidak pula mengurangi otonomi tersebut. Maksudnya drama bersifat berdiri
sensiri akan tetapi drama bersifat otonom berarti menghapus eksistensi
pengarang, karena peran pengarang tidaklah mengurangi keotonomannya tersebut.
2. Ada
keterkaitan logis sebagai salah satu faktor yang mendorong proses penciptaan.
Imajinasi menyebabkan pengarang tidak sepenuhnya sadar dengan niatnya hendak
diungkapkan melalui drama. Jadi pengarang dikaitkan dengan logika / perasaan
yang tak lain adalah suatu faktor pendukung.
Sebuah karya drama
tidaklah dipandang sepenuhnya mewakili pemikiran dan visi pengarang dari
berbagai vareasi waktu dan tempat penulisan, dapat dianggap mewakili obsesi
pengarang.Maksudnya seorang pengarang
1. menciptakan
suatu karyanya tidaklah dipandang hanya dengan pemikiran dan visi pengarang
dapat juga seseorang menganggap mewakili obsesi pengarang.
2. Kepribadian
pengarang dapat berhubungan dengan kepribadian tokoh drama ciptaannya,tetapi
tidak dengan keseluruhan tokoh tokoh drama. Maksudnya kepribadian seorang
pengarang dapat berhubungan dengan tokoh drama,tetapi dalam pencantumannya
hanya dari beberapa tokoh saja,atau dapat juga penciptaan drama itu dilakukan
berdasarkan adanya hubungan perasaan antara pengarang terhadap kepribadian
tokoh.
3. Besar
atau kecilnya hubungan antara niat pengarang dengan makna muatan drama tidaklah
dapat dijadikan tolak ukur berhasil atau kegagalannya sebuah karya drama.
Maksudnya besar atau kecilnya hubungan antara niat pengarang dengan makna
muatan drama jadi belum tentu dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan atau
kegagalan sebuah karya drama, atau banyaknya makna dalam suatu drama tidak
terlalu berpengaruh dalam keberhasilan suatu karya drama, tetapi yang
terpenting adalah kaitan antara drama dengan pengarang itu sendiri dalam kehidupanny.
4. Unsur
drama yang berhubungan dengan pengarang dapat berupa isi maupun srtuktur drama.
Srtuktur drama ialah penggarapan bahasa didalam drama. Unsur yang paling
menonjol berhubungan dengan pengarang adalah penokohan dan penggarapan
bahasa ( gaya bahasa ). Maksudnya adalah
struktur drama adalah penggarapan bahasa didalam drama, unsure yang paling
menonjol berhubungan dengan pengarang adalah penokohan dan penggarapan bahasa.
Pendekatan ekspresif
dalam terapannya cenderung memanfaatkan psikologi, menurut pandangan psikologi karya sastra drama
identik dengan mimpi, karena keduanya muncul secara tidak didasari manusia (
seniman ). Maksudnya dalam terapannya cenderung memanfaatkan psikologi karya
sastra drama identik dengan mimpi, karena keduanya muncul tidak didasari
manusia ( seniman ).
2.2 Prinsip Terapan Pendekatan
Ekpresif
Berdasarkan prinsip – prinsip umum diatas maka dalam
penerapannya harus diingat
beberapa prinsip
terapannya berikut ini:
1. Penganalisisan
tetap dilakukan bertahap, artinya tetap menggunakan data yang terkumpul dari
pendekatan objektif. Maksudnya suatu penerapan yang dilakukan oleh seorang
pengarang harus menggunakan data terkumpul dari pendekatan objektif, agar hasil
karya yang di buat lebih efektif, dan mudah difahami oleh pembaca.
2. Data
tentang pengarang dapat ditemukan melalui pengenalan kepustakaan dan koesioner.
Maksudnya suatu data seorang pengarang dapat diketahui melalui pengenalan
kepustakaan dan kuesioner, agar pengarang lebih mudah dikenal oleh pembaca dan
karyanya lebih terkenal.
3. Perumusan tentang data kepengarangan dapat dijadikan
pola pencarian dan penganalisisan karya dramanya. Jadi suatu data tentang
kepengarangan dapat dijadikan pola pencarian dan penganalisisan karya dramanya,
agar mudah dianalisis, oleh seorang pembaca.
4. Betapapun keterkaitan karya drama dengan
pengarang jika hanya dilihat dari sebuah karya sastra saja, tidaklah mutlak
penggambaran kehidupan fisik dan spikis pengarang. Maksudnya kita melihat suatu
karya drama dengan pengarang jika hanya dilihat dari sebuah karya sastra, belum
tentu penggambaran dari sebuah kehidupan fisik dan spikis pengarang. Kadang,
dari suatu karya itu dibuat oleh pengarang, akan tetapi ide yang dimunculkan
oleh pengarang secara tiba – tiba.
Penyelidikan sebuah
karya drama tidaklah mencerminkan pengalaman dan
pengamatan pengarang, karena
sebuah drama adalah pengalaman dan
pengamatan sesaat dari keseluruhan
perjalanan hidup pengarang. Maksudnya
sebuah karya drama tidaklah mencerminkan
pengalaman dan pengamatan
pengarang,
1. karena
sebuah drama adalah pengalaman dan pengamatan sesaat dari keseluruhan
perjalanan hidup seorang pengarang, jadi perjalanan hidup seorang pengarang
terlalu panjang, akan tetapi karya drama hanya sesaat dilakukan dari
keseluruhan perjalanan hidup pengarang.
2. Unsur
drama yang kongkret berhubungan dengan pengarang adalah gaya bahasa. Jadi
seorang pengarang membuat suatu karya drama cenderung kongkret berhubungan
dengan gaya bahasa yang digunakan oleh seorang
pengarang.
2.3.
Pendekatan Pragmatis
Pendekatan
pragmatis berpandangan bahwa unsur penentu dalam memberikan sebuah karya sastra
– drama
– adalah pembaca. Makna drama bukanlah sebagaimana yang diniatkan
pengarang, atau sekadar
penafsiran simbol
–
simbol bahasa brama yang semata. Pembaca dianggap mempunyai peranan
penting dalam
menentukan makna drama. Hal ini disadari dengan adanya kenyataan
berbeda
– bedanya pendapat dan penafsiran para pembaca terhadap karya drama
yang sama.
Pendekatan
pragmatis tumbuh dan berkembang dengan semakin diterimanya argumentasi para
teoritis
sastra yang mengemukakan metode persepsi sastra.
Beberapa
prinsip umum dalam penganalisis drama dengan menggunakan pendekatan pregmatis adalah berikut :
1) Sebagaimana
pendekatan ekspresif dan memisis, pendekatan pragmatis ini tetap mengutamai
keotonoman drama. Jadi pendekatan pragmatis ini sama halnya dengan pendekatan
sebelumnya karena lebih mengutamakan otonomi suatu drama.
Pembaca pada dasarnya
dapat dibedakan menjadi tiga klasifikasi yaitu
membaca biasa yang membaca teks
drama dengan pemberian
1) makna
sebagimana tertulis; Pembaca pandai yang membaca teks drama dengan pemberian
makna berdasarkan interprestasi tanda –
tanda didalam teks drama. Maksudnya suatu pembaca tersebut dapat
mengidentifikasi dan menganalisis suatu karya drama yang telah dilihatnya.
2) Perbedaan
pembaca disebabkan adanya perbedaan horizon pembaca terhadap drama berdasarkan
pembacaannya yang terdahulu dan pengalaman budayanya. Jadi pengalaman budaya
seseorang dapat mempengaruhi pembaca pada suatu karya sastra, karena hal itu
mencerminkan budaya seseorang.
3) Penyelidikan
secara objektif tetap diperlukan karena efek sastra terhadap pembaca ditentukan
oleh hubungan antar unsur intrinsik drama dengan horizon harapan pembaca. Hal
itu dikarenakan sastra terhadap pembaca ditentukan oleh hubungan antar unsure
intrinsik drama dengan horizon harapan pembaca.
4) Orientasi
pendekatan pragmatis tidaklah untuk menentukan kualitas estetik suatu teks
drama, tetapi menyelidiki penerimaan dan reaksi pembaca dan masyarakat terhadap
suatu karya drama.
5) Pembaca
di dalam proses pembacaan kecenderungan mengidentifikasi dirinya dengan tokoh
drama tertentu, sebaliknya ia akan mengontradiksi dirinya dengan tokoh drama
tertentu. Maksudnya kualitas estetik yang dimaksudkan adalah bagaimana
penalaran suatu drama yang di lihat suatu pembaca.
6) Pembuktian
dan penyimpulan akhir penganalisisan haruslah memperhitungkan keseluruhan data
kuesioner dari totalitas permasalahan dan konflik drama. Maksudnya data
kuesioner yang di maksud adalah data – data mulai dari masalah yang akan timbul
hingga akhir suatu drama tersebut, itu dilaksanakan sebagai pembuktian
kesimpulan dari analisis suatu drama.
2.5 Fungsi Terapan Pendekatan
Prakmatis
Berdasarkan prinsip umu diatas, maka dapat
disimpulkan bahwa pendekatan pragmatis
meliputi dua tjuan analisis utama, yaitu
penelusuran pemahaman dan relasi pembaca, serta
penelusuran pengaruh drama
terhadap pembaca.Prinsip terapan dalam penelusuran pemahaman dan
relasi pembaca adalah sebagai berikut:
WS, Hasanuddin. 1996. Drama karya
dalam dua dimensi kajian teori,sejarah dan analisis. Bandung: angkasa.
1) Permasalahan
drama dirumuskan berdasarkan teknik analisis objek baik melalui penelusuran
penokohan,maupun melalui penelusuran peristiwa dan motif.
2) Bertolak
dari permasalahan drama, maka disusunlah
koesioner. Sedapatnya dari sebuah permasalahan disusun tiga buah koesioner.
· Kuesioner pertama mempertanyakan bagian teks drama tentang permasalahan yang hendak
ditanyakan, jawabannya dengan menyediakan alternative interpretasi
penganalisisan.
· Kuesioner kedua menyangkut akibat dari
permasalahn yang diajukan semula dengan alternatif jawabannya yang sesuai dan
kontradiksi dengan data teks.
· Kuesioner ketiga menyangkut pertanyaan
pendapat dan penilaian pembaca terhadap akibat permasalahan. Dalam hal ini
menyangkut penilaian subjektif pembaca.
3) Responden
pembaca haruslah diambil secara merata dan seimbang dari keragaman pembaca
biasa, pandai, dan ideal. Maksudnya agar suatu pembaca tersebut dapat seragam
antara pembaca biasa, pandai, dan ideal maka harus disesuaikan supaya menjadi
merata dan seimbang.
4) Jawaban
responden tidak harus dibatasi pada satu pilihan jawaban saja. Sebab
penelusuran hanya merupakan kemungkinan interprestasi pembaca dan bukan
ketetapan interpretasi pembaca.
5)
Jawaban
responden dihitung secara kuantitatif. Maksudnya suatu jawaban dihitung oleh
angka – angka.
6) Pemahaman
drama melalui proses kerja seperti ini pada hakikatnya membantu penganalisis
untuk tidak gegabah memberikan penilaian akhir
terhadap kualitas drama.
7) Pembuktian
dan penyimpulan akhir penganalisisan haruslah memperhitungkan
keseluruhan data
kuesioner dari totalitas permasalahan dan konflik drama.
Langkah langkah
pendekatan ekspresi.
1. Siswa
dibagi menjadi beberapa kelompok.
2. Guru
memilih salah satu kelompok kemudian memberikan kertas yang berisi kalimat
cerita yang menyedihkan.
3. Kemudian
masing -masing siswa disuruh membaca dan memahami.
4. Dari
pemahaman yang didapat, maka akan timbul ekspresi anak yang berbeda-beda.
Langkah
langkah pendekatan pragmatic
1.
Guru membagi kelompok pada siswa.
2.
Guru menyiapkan karya drama kepada
setiap kelompok yang sama isinya.
3.
Siswa disuruh membaca dan memahami
dari isi cerita tersebut.
4.
Kemudian dari membaca sebuah cerita
tersebut maka anak akan mendapatkan makna yang berbeda beda terhadap karya
drama tersebut.
BAB
III
PENUTUP
1) KESIMPULAN
Pendekatan ekspresif merupakan pandangan pengarang adalah
faktor yang paling penting dalam proses penciptaan drama. Pendekatan ekspresif
mempunyai prinsip umum serta cara penerapannya.Pendekatan pragmatis merupakan
unsure penentu dalam pemberian makna sebuah karya sastra drama adalah pembaca.
Pendekatan ini juga mempunyai beberapa prinsip umum serta penerapannya.
2) SARAN
Makalah ini dibuat sebagai tugas kelompok mata kuliah telaah drama. Diharapkan makalah
ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik baiknya, sebagai bahan ajar dan ilmu
tambahan bagi pembaca, pendengar maupun penulis itu sendiri.
DAFAR PUSTAKA
jika menyertakan link aktif diaggap sepam